- Catatan evaluasi menunjukkan 12 kasus dugaan keracunan MBG terjadi sejak Sudaryono dilantik memimpin BGN.
- Total korban terdampak di berbagai daerah telah menembus angka 2.886 orang dalam rentang waktu singkat.
- Insiden terbaru menimpa 566 santri di Ponpes Mambaul Hikam Sidoarjo, penyalur MBG sampaikan permohonan maaf.

Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
INFONELUR.COM, JAKARTA — Evaluasi terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah rentetan insiden dugaan keracunan makanan terus berulang di sejumlah daerah.
Meski pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) telah berganti, temuan kasus dilaporkan masih terus terjadi di lapangan.
Kepala BGN saat ini, Sudaryono, resmi dilantik pada 22 Juli 2026 untuk menggantikan Nanik S. Deyang yang memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya.
Namun, sejak hari pertama kepemimpinannya, tantangan besar terkait keamanan pangan langsung membayangi operasional program prioritas tersebut.
Tembus 2.800 Korban dari 12 Kasus Berbeda
Berdasarkan data kompilasi kejadian di lapangan, tercatat ada 12 kasus dugaan keracunan yang diduga berkaitan dengan menu MBG dalam rentang 22 Juli hingga 1 September 2026.Dari belasan insiden yang tersebar di berbagai wilayah tersebut, akumulasi korban terdampak yang mengalami gejala medis tercatat mencapai 2.886 orang.
Angka ini menjadi alarm serius bagi tata kelola pengawasan kualitas dan higienitas pangan yang disalurkan ke sekolah maupun pondok pesantren.
Sebagian besar korban mengeluhkan gejala serupa, seperti mual, pusing, hingga muntah usai mengonsumsi jatah makanan yang dibagikan.
Kasus Sidoarjo Jadi Insiden Terbaru
Insiden terbaru menimpa ratusan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hikam, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa (1/9/2026).Dalam peristiwa tersebut, sebanyak 566 santri dilaporkan mengalami gejala gangguan pencernaan dan harus mendapatkan penanganan medis darurat.
Kendati pengujian laboratorium masih berjalan untuk memastikan penyebab pasti, pihak penyalur telah mengambil langkah responsif.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Rafli Ridho, selaku pihak penanggung jawab penyaluran MBG di wilayah tersebut, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas musibah yang terjadi.
Poin Pengawasan Sistemik Penyaluran MBG
Rentetan insiden ini mendorong berbagai pihak mendesak BGN dan kementerian terkait untuk memperketat standar operasional prosedur (SOP) dapur penyedia.Pengawasan dinilai tidak boleh berhenti pada proses distribusi, tetapi harus mencakup:
- Verifikasi kelayakan bahan baku dari pemasok lokal.
- Higienitas proses pengolahan di dapur umum atau penyedia rantai pasok.
- Standar batas waktu konsumsi sejak makanan dikemas hingga diterima siswa.