JAKARTA, INFONELUR.COM — Mantan Menko Polhukam Mahfud MD secara terbuka menyampaikan apresiasi dan pujian atas tajuk aksi demonstrasi bertajuk "Merebut Kemerdekaan" yang diusung oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI).
Menurut Mahfud, tema aksi yang terbilang berani tersebut sangat relevan dan mencerminkan realita sosial-politik yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
Ia menilai, meski secara fisik Indonesia telah bebas dari penjajahan bangsa asing, namun hakikat kemerdekaan yang sejati belum dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan rakyat. Kemerdekaan saat ini dianggap masih terpusat dan hanya dinikmati oleh segelintir elite penguasa.
Substansi Tepat Meski Bahasa Terkesan Menohok
Mahfud mengamati bahwa penggunaan tagar dan narasi yang dibawakan oleh mahasiswa memang terkesan lugas dan menohok, mirip dengan satir atau kritik keras. Namun, ia menegaskan bahwa secara substansi tidak ada yang salah dengan pesan yang disampaikan mahasiswa tersebut.
"Tajuk itu mungkin terdengar tajam, tapi secara substansi tidak salah, malah sangat bagus karena menggambarkan situasi riil masyarakat saat ini," ungkap Mahfud.
Ia menambahkan, dorongan kritis dari kalangan mahasiswa merupakan hal yang sangat penting untuk terus mengingatkan para pemangku kebijakan agar kembali pada ajaran dasar berbangsa dan bernegara.
Bandingkan Praktik Korupsi Orde Baru dan Era Sekarang
Dalam pernyataannya, Mahfud turut menyoroti pergeseran peta korupsi di Indonesia. Ia membandingkan kondisi penegakan hukum pada era Orde Baru dengan kondisi saat ini yang dinilainya kian meluas.
Beberapa poin kritis yang disoroti Mahfud meliputi:
- Penyebaran Korupsi: Pada masa Orde Baru, praktik korupsi umumnya terbatas di "kamar kecil" lingkungan eksekutif. Namun saat ini, korupsi telah menjangkau lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, hingga badan non-departemen.
- Tebang Pilih Penegakan Hukum: Lembaga penegak hukum dinilai cenderung memberikan perlindungan ekstra kepada pejabat tinggi yang terseret kasus hukum, namun bertindak tegas dan cenderung sewenang-wenang terhadap rakyat kecil.
Kecam Gaya Hidup Hedonis Pejabat yang Munafik
Tak berhenti di situ, Mahfud juga menumpahkan kekecewaannya terhadap gaya hidup mewah dan hedonis yang kerap dipamerkan oleh sejumlah pejabat publik di tengah kesulitan ekonomi masyarakat.
Ia menilai perilaku tersebut sebagai tindakan yang munafik. Sebab, para pejabat kerap mengimbau masyarakat luas untuk hidup sederhana dan berhemat, namun tindakan mereka sendiri justru menunjukkan hal yang bertolak belakang.
Sikap kritis yang ditunjukkan oleh BEM UI diharapkan dapat menjadi momentum evaluasi mendalam bagi seluruh elemen pemerintahan agar perbaikan sistem hukum dan tata kelola negara dapat benar-benar diwujudkan demi kesejahteraan rakyat banyak.***