Infone Lur
Iklan / Sponsor
[ Slot Iklan Header Top Leaderboard (728x90 / Mobile 320x100) ]
Beranda / Berita Nasional

Trauma Anak Keracunan MBG, Orang Tua Siswa: Lebih Bagus Bawa Bontot Ikan Asin dari Rumah

IL
Redaksi Infone Lur Agustus 20, 2026
Iklan Artikel
[ Slot Iklan Artikel - Atas Paragraf ]

MEDAN, INFONELUR.COM — Peristiwa dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyisakan rasa trauma mendalam bagi para orang tua murid di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

​Salah satunya dialami Salmen Tua Sihite (52), ayah dari Krismas Dayanti Sihite (18), siswi SMAN 1 Berastagi yang hingga kini masih harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan.

​Akibat kejadian tersebut, Salmen secara tegas mengaku lebih memilih anaknya membawa bekal sendiri dari rumah dibandingkan harus mengonsumsi makanan dari program pemerintah tersebut setelah pulih nanti.

"Harapan saya pribadi, kalau bisa MBG ditutup lah. Buat saya ya, takutnya nanti anak saya seperti itu (keracunan) lagi," kata Salmen saat ditemui di RSU Haji Medan, Rabu (19/8/2026).


​Pilih Bekal Sederhana Demi Kepastian Kesehatan Anak

​Rasa khawatir yang melanda Salmen bukan tanpa alasan. Melihat kondisi kesehatan putrinya yang mendadak drop usai menyantap makanan MBG di sekolah membuat dirinya kapok.

​Ia menilai, membawa bekal atau bontot dari rumah jauh lebih aman dan memberikan rasa tenang bagi orang tua, meskipun menu makanan yang disiapkan terbilang sangat sederhana.

"Lebih bagus bawa bontot dari rumah walaupun ikannya ikan asin. Terjamin kesehatannya," tegas Salmen.


​Hal senada juga diungkapkan oleh Icu Mangihut Purba (44), orang tua dari Febiona Purba (16), siswi SMK Swasta Bersama Berastagi yang turut menjadi korban dugaan keracunan program tersebut.

​Icu mendesak agar pemerintah dan pihak penyelenggara segera melakukan evaluasi menyeluruh, terutama dalam ketatnya pengawasan dan kualitas kebersihan makanan yang dibagikan kepada para pelajar.

"Ya semoga pengawasan dan kualitas untuk menjaga makanan MBG ditingkatkan. Sehingga tidak lagi ada kejadian seperti ini. Cukup lah ini aja," harap Icu.


​Korban Didiagnosis Sembelit Hingga Gangguan Pencernaan Kronis

​Hingga saat ini, baik Krismas maupun Febiona masih harus mendapatkan penanganan medis secara intensif di ruang PICU RSU Haji Medan.

​Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RSU Haji Medan, Fitrady Ulianda Siregar, mengungkapkan bahwa kedua pasien mendapati diagnosis gangguan pencernaan berupa Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan Necrotizing Enterocolitis (NEC).

​Fitrady menjelaskan bahwa kondisi tersebut mengindikasikan adanya gangguan pencernaan kronis yang memicu rasa tidak nyaman ekstrem pada area perut. Ia tidak menampik bahwa pemicu utama dari reaksi medis tersebut diduga kuat berasal dari kontaminasi atau keracunan makanan tertentu.***

Iklan / Sponsor
[ Slot Iklan Bawah Artikel / Responsive Display ]
Bagikan:
Link berhasil disalin!
Iklan
[ Slot Iklan Sticky Footer Mobile 320x50 ]